Al-Qur’an Membawa Kebahagiaan

Oleh : Nadiya

Ya Allah, kami paham sekarang kenapa Engkau menganjurkan kami untuk mendahulukan membaca, menghafal, bahkan mengkaji Al-qur’an dari pada pekerjaan yang lainnya. Sebab ketika kita mendahulukan Al-qur’an, maka Allah SWT akan memudahkan segala urusan kita. Kami paham sekarang, ketika membacanya, ia selalu membuat hati kami senang karena ia selalu membawa bayang-bayang syurga-Nya yang nan indah.
Pagi hari ketika berkumpul di rumah beralaskan kayu, kami para Muhafidz merasakan bahagia duduk didepan teras menikmati udara sejuk dipagi hari bersiap-siap untuk menerima setoran Al-qur’an dari para calon penghuni syurga. Sungguh indah pemandangan setiap harinya. Seakan syurga yang disebutkan dalam Al-qur’an muncul didepan mata. Kami merasakan Al-qur’an mengajak kami untuk bertawakal. Ketika sudah mendapatkan hafalan baru, kami setorkan ke para muhafidz lalu kami titipkan kepada Allah, seperti itulah rutinitas kami.
Al-qur’an mengajak kami berpikir positif dengan percaya apa yang dijanjikan Allah. Ayat yang kami lafadzkan meyakini kami adanya kemudahan setelah kesulitan. Tidak merasa sedih dengan masa lalu, dan tidak merasa khawatir dengan masa depan yang akan hadir. Ketika membacanya kami melupakan segala hal bahkan tidak peduli apapun kecuali hafalan, hafalan dan hafalan. Sedih kami rasakan apabila futur kembali, tetapi tetap saja Allah selalu menjanjikan kami kemuliaan setelah keterhinaan. Melarang kami untuk berputus asa dari rahmatnya, ragu, ataupun berpikir negatif. Begitulah Allah yang Maha Kuasa yang telah mengatur srateginya, kepada hamba yang disayanginya.
Kami rindu, kami rindu saat menikmatinya. Menikmati apa yang ada didalamnya, dan merasakan hembusan angin yang lembut pada sore hari dengan meratapi nasib yang begitu indah saat dekat dengannya. Kami terfokus pada satu halaman didepan mata yaitu Al-qur’an. Terfokus menjadikan hati kami mengeluarkan sumber kekeruhan jiwa, dan penyakit hati yang biasa dilakukan oleh manusia seperti halnya terbiasa melakukan dengki, iri, dendam, kebencian, atau bahagianya atas jatuhnya orang lain, sungguh tenang hati kami ya Allah. Sungguh Allah memerintahkan kami untuk berlapang dada, memaafkan, bersabar, berlaku kebaikan, menahan amarah, begitupun kami harus menunjukan sikap yang mulia.
Dan sesungguhnya kitab yang mulia ini adalah kitab terbesar dan teragung yang mengajak kebahagiaan kegembiraan dan kesenangan. Ketika kami membacanya, seolah dia mengatakan “Tenanglah, teguhlah, berbahagialah, berfikir positiflah, bersabarlah karena setiap penghujung malam ada pagi yang cerah, digunung yang tinggi ada langit dan taman yang maha luas, setelah perjalanan jauh ada sungai yang mengalir, dan dibalik batu besar ada matai yang sangat sejuk, dibawah terik matahari ada tempat berteduh, dan setelah kelelahan ada tidur yang lelap dan melapangkan hati” (DR. ‘Aidh Al-Qarni dalam hakadza Hadtsana Az-Zaman, hal.169)
“Sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan”[QS:Al-Insyiroh;6]
Wallahu’alambishawab. NS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *